Ketika bom atom jatuh di Hirosima dan Nagasaki, kalimat yang pertama terlontar dari kaisar Jepang adalah berapa banyak guru yang masih selamat? Kaisar Jepang saat itu sadar bahwa setelah kehancuran yang mereka alami mereka harus segera bangkit membangun lagi bangsanya. Cerita Jepang bangkit adalah dimulai dari manusianya, setelah bom atom jatuh banyak warga Jepang dikirim ke luar negeri untuk menimba ilmu. Hebatnya setelah mereka mendapat ilmu dari luar mereka kembali untuk membangun bangsanya.
Saat ini Jepang adalah negara di Asia yang bisa disejajarkan dengan negara maju dibelahan barat. Walaupun masih ada faktor lain Jepang bisa bangkit dan jaya, akan tetapi peranan guru adalah modal awal yang sangat dipahami Jepang. Bagaimana mereka begitu memprioritaskan bangsanya untuk memperoleh pendidikan yang terbaik dan menempatkan guru sebagai kaum terhormat karena tugasnya.
Membaca harian Kompas (5/3) tentang persoalan guru honorer di Indonesia sedikit banyak membuat saya kecewa. Memang bukan rahasia lagi jika masih ada kaum yang tidak sejahtera di negeri yang “kaya” ini. Tapi kenyataan masih ada guru honorer di daerah terpencil yang hanya mendapat gaji 150.000 perbulan itu sungguh keterlaluan. Apalagi jika untuk menyambung hidup keluarganya guru honorer itu masih harus menjadi buruh cuci. Sekalipun buruh cuci masih jauh terhormat dari seorang koruptor.
Kesejahteraan guru honorer memang kerap kali diabaikan dan cenderung dikalahkan dengan guru PNS. Padahal baik guru PNS maupun honorer adalah sama seorang guru yang punya tanggung jawab mendidik generasi bangsa ini. Keduanya hanya berbeda status secara formal saja.
Ujian manusia itu adalah ketika ketulusan mereka dinilai dengan uang. Apakah dengan pendapatan yang banyak seseorang masih bisa berdedikasi pada amanahnya? Apakah dengan gaji kecil mereka akan lari membuang semua kesialannya? Dan mereka yang masih bertahan mengabdi dengan gaji kecil adalah juara sejatinya. Itulah para guru honorer dengan segala pengabdiannya. Hanya, apa iya ujian bagi mereka tak kunjung usai.
Memang pengabdian itu tidaklah etis kalau dikonversikan pada rupiah, tapi rasa terimakasih juga kurang bermanfaat jika hanya lewat kata-kata. Tugas guru mendidik anak bangsa bukanlah sesuatu yang mudah. Guru itu digugu lan ditiru yang artinya guru dipercaya dan diikuti. Banyak tokoh penting di Indonesia yang terinsiprasi dari sang guru mereka. Bagaimana seorang guru mengilhami dan menjadi panutatan tokoh itu.
Soekarno, Semaun dan Kartosoewirjo nama-nama penting yang menyumbang pergolakan politik bangsa ini lahir dari didikan H.O.S Cokroaminoto. Walaupun ketiganya berbeda aliran namun pergerakannya kala itu adalah buah pemikiran luar biasa bagi kedewasaan politik di Indonesia. Begitulah hanya dengan satu orang guru mampu menciptakan sebuah bangsa besar dengan mendidik para calon pemimpinnya. Menjadi bangsa besar tidak hanya mengingat sejarahnya tapi juga harus berterimakasih pada yang mengajarinya.
Sudah saatnya bagi pemerintah untuk menengok kebijakan nasib guru honorer. Guru honorer biasanya ada apabila di sekolah memerlukan tenaga pendidik tambahan. Jadi kitalah yang sebenarnya membutuhkan mereka. Dan apakah pantas jika kita yang butuh tapi kita malah menyusahkan mereka. Kompas (5/3) menuliskan bahwa guru honorer yang diangkat pemerintah mendapat gaji sekitar satu juta perbulan dengan kontrak diperbaruhi satu tahun. Guru honorer daerah mendapat gaji dari APBD sesuai kemampuan daerah masing-masing. Sedangkan guru honorer yang diangkan kepala sekolah mendapat honor Rp 50.000-Rp 500.000 per bulan yang bersumber dari dana operasional sekolah.
Lucu bukan, hasil kerja mereka dinilai berbeda-beda padahal sekali lagi amanah mereka adalah sama untuk mendidik anak bangsa. Apa bedanya mendidik anak dengan SK Kemdikbud, SK Pemkab ataupun SK Kepsek? Toh kewajiban mereka sama kenapa hak yang diperoleh menjadi “tergantung”.
Lebih sial lagi nasib guru honorer ini adalah kenyataan bahwa kesempatan bagi mereka mengikuti sertifikasi sangat kecil. Hal ini karena pemerintah lebih mengutamakan bagi yang sudah berstatus PNS tanpa melihat guru honorer itu mungkin sudah mengabdi seperempat abad. Jauh lebih lama dari masa jabatan pemerintah memegang dinas kekuasaannya.
Bagaimana para elite negeri ini masih saja pusing mengurusi masalah partainya. Lupa kalau negara Indonesia bukan hanya di Jakarta, penduduknya bukan hanya di Senayan. Masih banyak masalah tak kalah penting yang jauh dari mata para terhormat. Kesejahteraan hidup guru honerer adalah salah satunya. Tidakkah menarik bagi mereka jika ada proyek bantuan bagi guru honorer?
Bagaimanapun penguatan sumber daya manusia melalaui pendidikan adalah modal utama Indonesia untuk berkembang dan maju. Guru sebagai salah satu penujang pendidikan baik honorer maupun tidak adalah bagian dari modal itu. Modal guru tidak boleh dihemat apalagi dengan mengorbankan kesejahteraanya. Sudahi saja open requirement guru honerer atau guru bantu jika pemerintah memang serius memperbaiki pendidikan semabari meningkat kesejahteraan warga. Segera permudah sertifikasi dan pengangkatan bagi guru yang masih berstatus tidak tetap.
Terlepas dari semua status itu guru adalah guru tanpa gelar honorer atau tetap. Kalau sekolah atau pemerintah butuh guru ya harus memberikan kepastian bagi nasib dan statusnya. Ironis jika guru yang dibebani urusan mendidik anak bangsa masih memikirkan cara bertahan untuk hidup diri dan keluarganya. Anak orang lain bisa sampai sarjana, anak guru honorer malah putus sekolah karena keterbatasan gaji sang guru. Tapi semoga itu tidak terjadi.
Terpujilah wahai engkau bapak ibu guru bantu honorer. Maafkan pemerintah yang mungkin tidak pernah punya kesempatan emas menjadi muridmu. Jika hari ini di pesta kelulusan SD,SMP dan SMA masih menyanyikan hymne guru maka pahlawan tanpa tanda jasa itu memang masih ada. Itulah guru bantu honorer dengan status tidak tetap.
Pertumbuhan ekonomi mendatangkan kesejahteraan namun di satu sisi juga mendatangkan kesenjangan. Apalagi Indonesia turut serta menjadi bagian di dalam era globalisasi yang tak bisa dipungkiri lagi bahwa seleksi alam globalisasi menjadi sangat ketat. Barang siapa tidak bisa menyesuaikan maka dia akan musnah cepat atau lambat. Kondisi ini pula yang saat ini sedang dialami masyarakat Indonesia, masyarakat berusaha mengaktualisasikan diri mereka dengan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk dapat bersaing dan merebut perhatian pasar.
Bagi yang punya uang sebagai modal utama tentu tak perlu khawatir lagi, uang mampu memberi mereka pendidikan hingga setinggi-tingginya, uang menjamin kesejahteraan hidup mereka dan uang mampu mendatangkan kehormatan baginya. Dengan tersedianya uang banyak, koneksi dengan orang-orang penting, dan cepatnya seseorang beradaptasi dengan lingkungan serta sedikit saja pengetahuan maka bisa saja nadi kehidupan suatu bangsa ada padanya tapi jangan lupa untuk meranngkul partai yang berkuasa.
“Ketidaksetaraan dalam pekerjaan, kekuasaan, dan kekayaan mewujud sebagai perbedaan kelas manusia dalam sistem produksi. Penentu dasar dari kelas ini menurut Marx, menjelma menjadi kepemilikan kekayaan dalam bentuk instrumen material dari produksi. Sebegitu jauh, distribusi dan konsumsi barang tergantung pada mode produksi mereka, yang selanjutnya pemilik kekayaan juga mendominasi seluruh ekonomi. Kepemilikan modal dengan demikian memisahkan kelas-kelas yang lebih tinggi dari keas yang lebih rendah; dan kepemilikan dari berbagai modal, seperti tanah, industri, membagi pemilik kekayaan itu sendiri menjadi kelas-kelas.” (1)
Indonesia memang bukan negara komunis yang segala sesuatu mengenai tata cara hidup berbangsa diatur dan ditentukan oleh Pemerintah pusat. Namun yang tak boleh dilupakan juga adalah pemeritah sebagai pemegang amanat rakyat terikat janji untuk melaksanakan ketentuan dalam Undang-Undang Dasar. Selain itu sebagai negara welfare state tugas mensejahterkan rakyat itu ada pada pemerintah. Dari segi ekonomi misalnya, Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan ekonomi kerakyatan yang dianut bangsa Indonesia haruslah berdasarkan keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia. Namun apa yang terjadi saat ini, Indonesia berlahan menjadi apa yang digambarkan dalam teori Marx, saat ini banyak modal-modal asing yang tertanam di Indonesia dan membudakkan rakyat sebagai alat produksi sembari mengekspolarasi hasil bumi kita habis-habisan.
Contoh paling ironis adalah tanah Papua, tanah yang kaya akan sumber daya alam namun menyisakan kemiskinan bagi pribuminya. Freepot perusahaan tambang emas besar yang mampu menghidupkan perekonomian Amerika Serikat (AS) dan menguatkan AS dari ancaman krisis hidup dari tambang emas Papua. Setiap harinya 20 juta dollar AS dihasilkan oleh Freepot, untuk Indonesia mereka memberi 1 persen saja, sisanya 99 persen dibawa pulang ke negara asalnya(2). Inilah bentuk dari kapitalisme baru yang berhasil mengaleniasi penduduk Papua.
Hingga Freepot berjaya sampai sekarang, Papua tempat Freepot menggali emas masih jauh dari kata merdeka dalam arti kata ekonomi. Memang benar masih ada upaya dari pemerintah pusat untuk setidaknya mengangkat Papua melalui otonomi khusus. Akan tetapi kebijakan yang dibuat hanya sekedar kebijakan otonomi khusus dengan pembiaran. Otonomi ini terkesan sekedar mengucurkan dana, memperbaiki infrastruktur tanpa merangkul dan mendampingi masyarakat Papua secara mental dan sosiologis. Otonomi khusus bukan menjadi jawaban atas persoalan Papua, sejak Undang-Undang Nomor 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua diterbitkan, kewenangan pemerintah daerah sangat luas, mulai dari kewenangan bidang politik luar negeri, pertahanan, moneter, fiskal, agama, hingga peradilan dengan dana otonomi khusus (otsus) mencapai 30 triliun(3) walaupun dalam UU tersebut juga mengamanatkan adanya evaluasi namun hingga diterapkanya Otsus hanya satu kali kementerian dalam negeri melakukan evaluasi. Bagi masyarakat Papua sendiri otonomi khusus tidak berdampak apapun bagi mereka, mereka tetap merasa tidak bisa menjadi tuan atas tanahnya sendiri. Minimnya kapasitas dan kepepmimpinan orang-orang yang duduk di pemerintahan daerah serta lembaga perwakilan menjadi salah satu alasan dari anggapan tersebut.
Banyak konflik masyarakat yang terjadi karena kesenjangan sosial ekonomi antara warga Papua asli dengan pendatang. Faktanya mereka yang bermigrasi ke Papua umumnya lebih memiliki tingkat pendidikan dan kemampuan yang lebih tinggi, alhasil warga Papua asli semakin terpinggirkan kepedalaman. Dominasi pendatang di daerah kota-kota yang disebabkan ketimpangan ekonomi praktis kerap kali memicu konflik horisontal(4). Konflik antar suku juga masih menjadi isu utama yang tak berujung pasti penyelesaiannya. Hukum tidak berdaya di tanah adat Papua karena hukum adatlah yang mereka pakai, sedangkan sumber daya penegak hukum kita terlalu angkuh untuk menyelesaikan masalah dengan hukum adat. Alhasil warga Papua merasa semakin tidak dianggap, pelanggaran HAM yang
banyak menjadi sorotan para aktivis pun tidak benar-benar ditanggapi pemerintah. Papua masih tetap merupakan “Tanah yang Dilupakan”.(5)
Saat ini kondisi keamanan di Papua kembali memanas seiring dengan kerusuhan di Freeport. Sekaranglah waktu yang tepat bagi pemerintah menunjukkan keberpihakkannya, pada feodal Freepot atau tanah Papua. Penyelesaian perkara kekerasan di Papua tidak selayaknya ditangani dengan kekerasan dan secara hukum semata. Pendekatan melalui teroi konflik Karl Marx juga hanya salah satu cara untuk mengetahui sumber masalah sebenarnya pada masyarakat Papua. Setidaknya saat ini pendekatan secara kultural lah yang harus diutamakan Pemerintah pusat. Dari Jawa, Jakarta, Yogyakarta maupun Papua adalah sama tidak ada yang lebih istimewa maupun lebih pedalaman, namun dalam menanganinya buth cara-cara yang berbeda tentunya pemerintah lebih paham akan hal itu.
_________________________________________
(1)Achmad Fedyani Saifuddin, 2005, Antropologi Kontemporer, Suatu Pengantar Kritis Mengenai Paradigma,Fajar Interpratama offset, hlm 349
(2) Harian Kompas Senin, 21 November 2011
(3) Harian Kompas Jum’at 4 November 2011
(4) Bambang Hudayana, Pemberdayaan Masyarakat Papua Barat Berbasis Kampung Dalam Agenda Percepatan Pembagungan, disampaikan dalam diskusi “Kebijakan Percepatan Pembangunan Berbasis Komunitas Adat, Sosial Politik dan kultural Masyarakat Papua”. FH UGM, Kamis 17 November 2011.
(5) Ikrar Nusa Bhakti, Pembangunan Papua Buat Siapa? Kompas
Refleksi atas Pengakuan Hak Lingkungan Hidup yang Baik dan Sehat di Indonesia
Posted: November 18, 2011 in tanah airTags: lingkungan
Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.
Secara konstitusioanal hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagai bagian dari hak asasi manusia tercantum dalam UUD 1945 pasal 28H dan juga tercantum dalam pasal 65 ayat (1) UUPPLH tahun 2009. Hak tersebut memberikan kepada yang mempunyainya suatu tuntutan yang sah guna meminta kepentingannya akan suatu lingkungan hidup yang baik dan sehat itu dihormati, suatu tuntutan yang dapat didukung oleh prosedur hukum, dengan perlindungan hukum oleh pengadilan dan perangkat-perangkat lainnya. (Koesnadi, 102)
Manusia dan makhluk hidup lainnya untuk mempertahankan hidupnya sangat tergantung dengan lingkungan alam sekitarnya, walaupun dalam perkembangannya manusia kerap sekali memanfaatkan alam tanpa memperdulikan kelestarian alam itu sendiri. Terutama di Negara berkembang seperti Indonesia ini, sering kali atas nama pembangunan Negara, pemerintah mengeluarkan kebijakan yang bertentangan dan mengorbankan hak-hak atas lingkungan hidup.
Padahal hasil dari pembangunan itu sendiri tidak banyak yang dinikmati secara merata oleh seluruh warga Negara Indonesia, justru akibat buruk dari pembangunan yang merusak lingkungan yang dapat dirasakan merata oleh rakyat Indonesia. Banyak hutan Indonesia yang kini gundul akibat pembukaan areal pertambangan di kawasan hutan lindung, pemanfaatan areal hutan untuk pemukiman, industry dan untuk pemenuhan barang komersial lainnya, yang dampaknya sering kali membawa bencana bagi penduduk sekitarnya. Longsor, banjir saat musim hujan datang, dan kekeringan saat musim kemarau datang. Akibat dari kerusakan hutan pun juga harus di tanggung oleh flora dan fauna yang menghuni kawasan hutan, mereka masa demi masa semakin terancam kelestarian hidupnya.
Semua nilai kerusakan itu tidaklah sebading besarnya dengan hasil yang dicapai dari usaha komersialisasi hutan. Kerusakan hutan adalah kerusakan yang bersifat jangka panjang, yang jika dilakukan perbaikan pun butuh waktu yang lama dan memerlukan biaya yang tidak sedikit.
Lain lagi keadaannya jika datang ke kota besar, di setiap sudut kota dan sepanjang jalan hanya ada bangunan-bangunan pencakar langit yang menjadi factor utama efek rumah kaca. Belum lagi asap kendaraan bermotor dan asap industry yang membuat sesak napas. Sungai pun tak luput menjadi ekses pembangunan yang hanya bersifat konsumtif dan komersial itu, sungai-sungai kini pun menjadi areal tempat pembuangan akhir limbah cair pabrik. Warna air sungai berubah menjadi hitam pekat, tidak mengalir, bau dan penuh tumpukan sampah yang berasal dari sampah rumah tangga, sampah industry dan lainnya yang semuanya adalah perbuatan manusia.
Ironisnya ada juga manusia yang tetap dan mampu bertahan hidup di sekitar lingkungan seperti itu. Walaupun akibat dari hidup di lingkungan yang tidak sehat itu mereka harus mengorbankan kesehatan jiwa mereka. Kehidupan mereka rentan sekali dengan berbagai macam wabah penyakit dan akses pemenuhan air bersih pun menjadi sulit, hingga akhirnya terpaksa memanfaatkan air yang ada di sekitar mereka yang tidak layak untuk digunakan. Ada banyak hal penyebab kenapa ada manusia yang tetap bertahan hidup di lingkungan itu. Dan salah satu factor utamanya tentu saja adalah ekonomi, dan kaum ini adalah salah satu yang sama sekali tidak menikmati hasil pembangunan yang dibangun di atas hak asasi mereka untuk memperoleh lingkungan hidup yang baik dan sehat.
Sering kali kerusakan lingkungan yang dilakukan oleh perusahaan swasta di Indonesia mendapat perlindungan hukum dari pemerintah kita. Rakyatlah yang lagi-lagi menjadi korban, hingga rasanya untuk memenuhi kelayakan hidup yang baik dan sehat secara merata di Indonesia masih menjadi angan-angan yang sulit dicapai walaupun sudah sangat terlambat untuk menjadi pesimistis.
Namun, karena hak tersebut tercantum dalam Undang-Undang dan setiap orang boleh menuntunya, maka tidak salah jika penuntutan atas lingkungan hidup yang baik dan sehat itu dilakukan. Bukan hal yang baru banyak LSM dan ORMAS atas nama lingkungan maupun atas nama kelompok melakukan gugatan kepada pemerintah. Namun hasil yang dicapai pun masih banyak yang jauh dari harapan dan cita-cita untuk mendapat hak itu secara penuh.
Upaya penegakkan hukum lingkungan di Indonesia pun, masih sangat jauh dari yang diharapkan. Penerapan sanksi secara administrative dirasa kurang memberi efek jera bagi pelaku, sedangkan procedural gugatan secara perdata harus melalui proses yang berbelit-belit, sehingga membuat proses gugatan menjadi tidak efektif dan mengeluarkan banyak biaya. Jadi sudah seharusnya pemerintah bisa memberi sanksi pidana yang tegas bagi setiap perusak lingkungan di Indonesia
Pemerintah seharusnya lebih bijak menangani masalah pembangunan yang kepentingannya memang sering kali berbenturan dengan kepentingan lingkungan hidup. Bukan suatu kebijakan yang bijak jika harus mengorbankan satu kepentingan yang dianggap lebih kecil dari yang lainnya untuk melaksanakan kepentingan lain yang dianggap lebih besar.
Rasanya, baru kemarin saya lulus SD, SMP, SMA.. merasakan senang mendapat uang saku tiap lebaran, bahagia ketika masuk 3 besar di kelas, sedih ketika niali UAN tak sesuai yang diharapkan. Rasanya masih kemarin ketika saya menangis malam hari takut tidur gelap sendirian, masih baru kemarin ketika saya bangun pagi hanya untuk menonton serial chibi maruko chan.. itu kemarin yang jauh disana namun tak sedikitpun ada yang terlupa.. Dulu, mudah saja merengek ketika mau sesuatu, gampang menangis ketika sakit dan sedih. Sekarang tiba-tiba saya disini, diruangan ukuran 4×3 m sendiri menulis tentang sedikit cerita masa lalu.
1,5 jam sebelum usia ini genap 20 tahun. Semua orang pasti punya mimpi tapi tak semua orang punya banyak waktu dan kesempatan mewujudkan mimpi, menggapa cita dan cinta. Cinta yang tak terukur dan selalu terbalas dengan luar biasa, cinta Tuhan, cinta kedua orang tua. Banyak yang harus saya syukuri dari 20 tahun hidup ini, tak perlu ada yang disesali apalagi diingkari. Bahwa apa yang saat ini saya dapat mungkin masih jauh dari harapan saya sendiri maupun keluarga adalah sesuatu yang memang masih harus saya selesaikan, dan bukan berarti berhenti disini. Yang saya yakini adalah Tuhan itu Maha Mengatur, Tuhan tau tapi menunggu.
20 tahun itu??? Entahlah, ada saat saya merasa sedih karena umur yang semakin bertambah ini mengurangi jatah hidup saya. Ada ketika saya merasa sayang karena umur terkadang menuntut sebuah kedewasaan, walaupun tak semua sepakat dengan hal itu. Ada saatnya saya risau karena 20 tahun artinya saya harus semakin dekat dengan cita-cita. Lalu siapkah saya dengan semua nanti? Sedangkan hidup saat ini pun belum sepenuhnya saya mengerti, masih terlalu banyak yang tak bisa saya pahami. Dan arti hidup juga belum selesai saya cari. Sedangkan jati diri?? Masih merupakan pengembaraan hidup yang terus saya lakoni.
Detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun berganti,, waktu yang selalu berputar tak mungkin saya hanya berhenti disini.. mau tidak mau saya harus berjalan dengan waktu, terkadang saya berlomba dengan waktu untuk turut menentukan takdir, setidaknya usaha saya bisa menjadi pertimbangan Yang Maha Kuasa.
Namun, semua itu adalah bagian dari saya. Saya sendiri yang bisa menjawab dan menentukan semuanya -Tentu Tuhan juga berperan- Masih harus besyukur untuk semua yang saya dapat. Keluarga yang amat menyanyangi saya dan teman-teman yang selalu ada mewarnai hidup saya. Waktu yang selalu mengajari saya akan masalah dan penyelesaiannya, waktu yang membuat saya percaya Tuhan itu ada, dan semua indah pada akhirnya.
Tentang kemarin 19 tahun yang berlalu adalah hal terindah yang patut disyukuri, hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan 20 tahun esok harus lebih baik dari hari ini. Yang selalu sama tak pernah akan pernah berubah adalah saya tetap seorang anak bagi kedua orang tua saya.. Terimakasih untuk kedua orang tuaku yang selalu memberi cinta dan segalanya,, yang tak juga akan berubah adalah saya seorang adik,, terimakasih untuk kakak tercantik yang selalu mendukungku.. yang selalu sama adalah tentang persahabatan dari sahabat luarbiasaku,, terimakasih untuk sahabat-sahabatku yang memberi warna dalam perjalanan hidupku.
Selamat memperingati dan merenungi 20 September, semoga Tuhan selalu memberi kekuatan dan kemudahan.. Amiien..
Entahlah, aku berdusta pada siapa. Janji mana yang tidak aku tepati, mau siapa yang tidak aku turuti dan berapa banyak yang aku kecewakan? Sungguh tidak ingin menjadi orang yang terlalu banyak bicara dan mengeluh. Walau pada kenyataanya aku tidak bisa melakukannya, aku masih ingin diam dan menyimpan kekecewaan dan kekalahan ini snediri. Meski yang lain tau aku kalah, namun hanya ingin menunjukkan pada mereka aku tak kecewa. Itu saja!
Sekalipun mereka yang telah memberi kepercayaannya padaku merasakan kecewa juga. Dan aku?? Oh Tuhan, aku hanya butuh Engkau saat ini, aku ingin ingin menjadi pribadi yang kuat. Satu per satu ingin kulakukan yang terbaik, tapi aku tak punya cukup keberanian untuk itu, bahakan untuk melawan aku tak bisa. Aku mengkhianati setiap kata-kataku. Tuhan ku yang maha Pengasih lagi Pemurah, hanya kepaMu aku berkeluh kesah, hanya kepadaMu aku limpahkan segala kekecewaanku dan Hanya PadaMu aku bergantung akan janji Indah, meminta kemurahan hatiMu untuk merubah keadaan menjadi lebih baik bagiku dan bagi mereka
Tuhan, kenapa ujian menjadi orang kuat harus datang dari dalam diriku sendiri. Tuhan, harus bagaimana aku ini???
Tuhan, ambisi itu menyakitkan ketika aku tak sanggup menggapainya,, keangkuhan itu melelahakan ketika aku hanya bisa bertahan dan kesombongongan itu memalukan karena pada akhirnya aku tak mendapatkan apa2. Lantas bagaimana diri ini harus berdiri dihadapan mereka Tuhan? Engkau tahu aku tak sehebat diriku, aku hanya manusia yang pandai berkata tanpa makna, bahkan sekedar kekuatan aku tak punya. Aku hanya punya mau tanpa tahu. Tuhan, satupun tak mampu aku dapatkan,, Aku masih percaya Engkau menyimpan kebaikan untukku,, Tuhan, aku masih percaya akan janji terbaikMu akan ada pada waktunya nanti….
17 August 2011,
Yang terulang,, yang terulang sama setiap tahunnya adalah Upacara Bendera, karena 17 Agusutus selalu ada setiap tahunnya,, yang sama adalah peringatannya, peringatan tentang kemerdekaan Indonesia yang dulu direbut dengan semangat membara hingga membakar nyawa, mengorbankan raga untuk hari ini. Hari ini ketika bangsa ini harusnya merenung tentang apa yang telah diberikannya kepada Indonesia, setelah menerima anugerah kemerdekaan dengan harga yang sangat amat mahal tak ternilai. Yang terulang lagi lagi hanya penghargaan berupa upacara peringatan saja.
66 Tahun berlalu sejak Proklamasi dikumandangkan. Hari ini bangsaku merayakan hari kemerdekaannya. Entahlah, tak seperti biasanya tak ada gegap gempita disekitarku. Tak ada keramaian jalan, tak ada warna warni sorak kegembiraan. Semua dirundung lesu. Ya, mungkin juga karena ini bertepatan dengan puasa. Namun, semangat kemerdekaan itu pun tak kulihat dalam tayangan televise sekalipun. Entahlah..
(((Hei, apa kabar warga korban lumpur lapindo? Mungkinkah mereka merayakan kemerdekaan RI dengan atraksi mengibarkan bendera Merah Putih di tengah lautan lumpur lapindo
?? ah, mana mungkin,, jika iya pasti sekawanan pencari berita sudah sibuk meliput dan menjadi headline di sejumlah mass media. )))
Malas rasanya, malas mendegar pidato kemerdekaan, malas melihat tayangan segerombolan pasukan Paskibraka mengibarkan Sang Saka. Ah, aku takut perlahan menjadi apatis. Namun, itu lah yang aku rasakan. Seperti semua sama saja semua hanya klise, semua menjadi omong kosong ketika para pemimpin bangsa ini tak mampu menyelesaikan masalah internal dalam sistem pemerintahan ini. Masalah mereka yang terlalu egois, haus kekuasaan dan uang.
Mereka yang bicara pembangunan, pemerataan, kesejahteraan, apa mereka tahu rasanya miskin? Apa mereka merasa dengan hati bagaimana miskin atau tepatnya dimiksinkan itu?? Dimiskinkan itu, kalau pemerintah tetap saja “main mata” dengan para koruptor. Hanya yang indah di mulut tentang pemberantasan korupsi namun sebenarnya semakin melenggangkan jalan mulus para koruptor yang sebenarnya. Siapa yang jadi salah atas kesalahan siapa sekarang ini menjadi kabur. Saling tuding, saling menjatuhkan, saling berorasi berkata kebenaran di depan kamera. Memalukan!! Mereka yang miskin saja tak pernah masuk kamera TV minta dikasihani dan dibela, tak pernah mencitrakan diri untuk diberi simpati dan berkata telah didzolimi. Sejak bergulirnya reformasi sebagai awal jaman kebebasan dalam kemerdekaan, kebebasan itu menjadi murah, bebas korupsi, bebas berbohong pada public, bebas mengkomersilkan fasilitas umum, bebas memuat berita sesuai kepentingan dan bebas memilih kawan maupun lawan. Ah, kebebasan itu semakin sulit diatur oleh hukum.
Dan akan semakin jadi apa rakyat Indonesia, kalau yang diatas saja masih sibuk tak bisa mengatasi kekacauan moral dan etikanya. Tak sempat lagi melihat ke bawah dimana masih ada banyak rakyatnya yang mengharap kenyamanan hidup sebagai warga Negara. Perut-perut lapar yang meminta nasi, tatapan kosong yang mengharap kehidupan sejahtera, badan yang lelah tergusur dipinggir jalan. Terlunta-lunta menunggu ditepatinya janji.
13 tahun reformasi dalam 66 tahun kemerdekaan kita. Apa yang telah kita berikan untuk bangsa ini? Bukankah sebaik baiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi yang lainnya? Jangan bertanya apa yang bangsa ini berikan untuk kita -karena memang bangsa ini masih menjadi milik mereka yang “berkuasa”- namun apa yang mampu kita sumbangkan untuk merebut kembali martabat bangsa ini dari mereka yang lupa –lupa kalau ini adalah Indonesia kita-.
July 9, 2011
Selesai sudah perjalanan singkat yang menyenangkan,,,
Menyenangkan tapi juga menakutkan. Jakarta memang indah, Jakarta yang mewah tapi Jakarta bukan untuk ditinggali melainkan hanya untuk sekedar disinggahi. Gedung, gedung dan gedung hanya itu sebatas mata memandang. Jalan panjang terurai dan berjuntai keatas bertingkat. Mempesona, keindahan jaman yang tak akan ditemukan disebuah kita kecil apalagi kota kelahiranku.
Jakarta dengan segala kemewahannya ternyata tak seindah apa yang nampak, Jakarta keras! Begitulah. Gedung yang menjulang tinggi adalah lambang seberapa hebat kamu mampu menyentuh langit dan mengawasi bumi dibawahmu. Saling mempertontonkan kekuatan dan kekuasaan, Jakarta oh Jakarta. Ada berapa banyak penduduknya? Entahlah. Yang pasti setiap tahunnya banya orang datang dengan mimpi mengubah nasib merantau ke ibukota Indonesia ini. Ah, ironisnya mereka akan sangat teramat sulit menemukan mimpinya disini, apalagi hanya berbekal tekad tanpa modal ilmu dan uang. Jakarta hanya milik orang berduit, Jakarta hanya tersenyum pada nasib orang kaya.
Tak banyak perbedaanya dengan perjalanan singkatku mengunjungi kota Jayakarta ini. Aku disini untuk mewujudkan mimpiku, mimpi melihat dan merasakan kehidupan Jakarta. Banyak pilihan kehidupan yang ditawarkan Jakarta, dari gaya hidup hingga model berpakaian. Ah, hanya aku tak melihat kearifan betawi disini. Aku melihat Jakarta bukan sebagai Indonesia, entah mengapa aku sama sekali tak melihat wajah budaya bangsaku di Jakarta. Semuanya hilang ditelan jaman, hanya tersisa tentang sejarah dan bangunan rentanya yang tak lagi terawat. Semangat pembagunan yang menggebu dan lupa menoleh pada jati diri kita.
Terlalu singkat untuk menilai Jakarta itu seperti apa, Jakarta ramah? Jakarta menjanjikan? Jakarta dan segala kemudahan untuk menyentuh langit? Itu hanya sebuah slogan menarik orang dan memperbudaknya dalam impian kejam yang tak akan tergapai! Tak akan tergapai tanpa ilmu dan uang.
Jakarta oh Jakarta, tak cukup satu, dua hari, minggu atau bulan untuk mengenalmu. Tak mungkin hanya dengan sekali pertemuan bisa menilaimu. Hanya yang nampak dan terekam adalah dua sisi wajahmu. Wajah keras kaku dan menderita.